Rabu, 27 Agustus 2025

Allahuma Sholi Ala Sayidina Muhamad Wa Al Ali Sayidina Muhamad

 

SHOLAWAT ADRIKNI

Apa itu Sholawat Adriknī?

Sholawat ini dikenal dengan nama  Sholawat Adriknī , berasal dari kalimat utama di dalamnya yaitu doa  Adriknī” (أدركني) yang berarti:  Tolonglah aku / selamatkanlah aku”.

Disebut juga dengan nama  Sholawat Al-Adrik.

Lafaz ini dipakai oleh banyak ulama salaf dan pengamal tarekat sebagai wirid  untuk meminta pertolongan cepat dari Rasulullah dengan izin Allah.

Asal-usul Sholawat Adriknī

1. Dinukil dalam kitab Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat  karya Sayyid Yusuf bin Ismail an-Nabhani (w. 1350 H).

2. Dalam beberapa riwayat, sholawat ini  diijazahkan oleh para wali besar  sebagai wirid penyelamat ketika menghadapi kesulitan mendesak.

3. Disebutkan bahwa sholawat ini diajarkan oleh **Sayyid Ahmad al-Badawi** dan sebagian mursyid tarekat Syadziliyah sebagai *wirid al-inqadz* (dzikir permohonan pertolongan segera).

Keajaiban & Khasiat Sholawat Adriknī

Beberapa keutamaan yang banyak diceritakan para ulama dan pengamalnya:

1. Pertolongan Cepat dalam Bahaya

Disebutkan dalam amalan ulama Syadziliyah, siapa yang membaca Sholawat Adriknī dengan keyakinan, maka  Allah akan mendatangkan pertolongan seketika. melalui wasilah Nabi . Banyak kisah orang yang selamat dari kecelakaan, bahaya perjalanan, hingga bencana alam karena istiqamah membaca sholawat ini.

2. Keselamatan dari Musibah .Ulama menukil bahwa sholawat ini menjadi  hirz (tameng) dari musibah besar, baik di darat maupun di laut. Karena lafaz  Adriknī  bermakna  tolonglah aku segera, maka sholawat ini sangat dianjurkan dibaca ketika menghadapi kesempitan hidup, sakit berat, atau ancaman.

3. Dimudahkan Rezeki dan Urusan Sulit

Banyak pengamal tarekat menuturkan, dengan membaca Sholawat Adriknī secara istiqamah, urusan duniawi yang terasa buntu (hutang, bisnis, pekerjaan, keluarga)  menjadi lapang.

 4. Ketenangan Jiwa dan Hati

 Karena sholawat ini merupakan doa yang penuh kerendahan diri di hadapan Rasulullah , maka ia menumbuhkan  tawakkal dan ketenangan batin.

 Membiasakan membaca sholawat ini saat gelisah, insyaAllah hati akan diliputi cahaya dan rasa aman.

 5. Syafaat Rasulullah

 Ulama sepakat, siapa pun yang bershalawat kepada Nabi, maka ia berhak mendapatkan bagian dari syafaat beliau di akhirat. Sholawat Adriknī memiliki kedudukan istimewa karena lafaznya berupa seruan pertolongan langsung kepada Rasulullah .

Amalan & Cara Membaca

 Tidak ada batasan jumlah mutlak, tetapi banyak ulama memberi ijazah  dibaca 40x, 100x, atau 313x  setiap hari.

 Saat kondisi darurat (musibah, sakit, atau bahaya besar), dianjurkan **dibaca sebanyak mungkin dengan penuh keyakinan.

Rujukan Kitab

1. Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat* – Sayyid Yusuf bin Ismail an-Nabhani.

2. Kanzun Najah wa as-Surur  – Imam Al-Qurthubi (disebutkan kumpulan sholawat, termasuk doa-doa Adriknī).

3. Amalan tarekat Syadziliyyah & Badawiyyah yang ditradisikan di Mesir dan kemudian menyebar ke Nusantara. Sholawat Adriknī adalah salah satu sholawat permohonan pertolongan kepada Rasulullah yang berasal dari ijazah para wali dan ulama besar. Khasiat utamanya adalah  mendatangkan pertolongan Allah dengan cepat, keselamatan dari bahaya, kelapangan rezeki, dan ketenangan batin . Ia termasuk sholawat populer di kalangan pengamal tarekat Syadziliyyah dan banyak diwariskan di Nusantara.

1. Siapa yang membuat / menyusun Sholawat Adriknī?

Sholawat Adriknī  bukan berasal langsung dari Nabi Muhammad , melainkan merupakan sholawat yang disusun oleh para wali dan ulama sufi  Mayoritas ulama ahli sholawat menisbatkan sholawat ini kepada  Sayyid Ahmad al-Badawi (w. 675 H), seorang wali besar Mesir dan mursyid tarekat Badawiyyah.

 Beliau dikenal sering mengajarkan wirid *“Adriknī yā Rasūlallāh”* kepada murid-muridnya sebagai doa *istighotsah* (memohon pertolongan segera melalui sholawat kepada Nabi).

2. Siapa yang pertama kali mengajarkan Sholawat Adriknī?

Sholawat ini pertama kali  diajarkan oleh Sayyid Ahmad al-Badawi kepada murid-murid tarekatnya** di Mesir. Kemudian amalan ini diteruskan oleh para ulama Syadziliyyah dan Badawiyyah, lalu dicatat oleh ulama-ulama besar dalam kitab sholawat. Di kalangan ulama Syadziliyyah, sholawat ini disebut sebagai *“sholawat al-inqadz”* (sholawat penyelamat), karena sering diamalkan ketika murid-murid mereka dalam keadaan genting.

3. Dalam kitab apa Sholawat Adriknī ditemukan?

Sholawat Adriknī tercatat dalam beberapa kitab sholawat klasik, di antaranya:

1. “Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat ” karya Sayyid Yusuf bin Ismail an-Nabhani (w. 1350 H). → Kitab kumpulan sholawat yang sangat masyhur, memuat ratusan macam sholawat termasuk Sholawat Adriknī.

2. “Kanzun Najah wa as-Surur” karya Imam al-Qurthubi.

   → Juga mencantumkan sholawat ini sebagai doa permohonan pertolongan segera.

3. Ditemukan juga dalam manuskrip-manuskrip doa tarekat Badawiyyah dan Syadziliyyah di Mesir.

Kesimpulan

Penyusun / pengamal awal : Sayyid Ahmad al-Badawi (w. 675 H), wali besar Mesir.

Pengajar pertama: beliau sendiri kepada murid-murid tarekatnya.

Kitab rujukan: dimuat dalam Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat  (an-Nabhani),  Kanzun Najah wa as-Surur  (al-Qurthubi), dan ijazah tarekat Badawiyyah–Syadziliyyah.

 

Sholawat Munjiyat


1. Penyusun / Penyampai Pertama

Sholawat Munjiyāt dinisbatkan kepada **Imam Abul Makārim Syekh Abul Majid Asy-Syadzili (murid dari Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, pendiri Thariqah Syadziliyyah). Sebagian riwayat menyebut doa ini diajarkan kepada beliau dalam keadaan  ilham  ketika beliau dan rombongannya menghadapi  bahaya besar di lautan Setelah beliau membaca sholawat ini dengan penuh keyakinan, Allah selamatkan mereka dari kebinasaan.  Sejak saat itu, sholawat ini dikenal dengan nama  Munjiyāt  (yang menyelamatkan).

2. Dinamakan Munjiyāt

Nama “Munjiyāt” berasal dari kata  najāh (نجا) yang berarti “selamat”.Sholawat ini diyakini sebagai wasilah  keselamatan dari musibah , baik di darat, laut, maupun dalam urusan kehidupan yang sulit.

 3. Disebarluaskan oleh Ulama

Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H) memasukkan Sholawat Munjiyāt dalam kitabnya *Al-Qaulul Badi’ fi Shalati ‘ala al-Habib asy-Syafi’.

 Sayyid Yusuf bin Ismail an-Nabhani (w. 1350 H) juga menukilnya dalam *Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat. Dari situlah sholawat ini semakin populer di kalangan kaum muslimin, terutama di dunia tasawuf dan tarekat.

Siapa yang Membaca Pertama Kali?

Yang pertama kali membacanya adalah  Syekh Abul Majid Asy-Syadzili  ketika menghadapi badai di laut bersama murid-muridnya. Setelah pertolongan Allah datang, sholawat ini menjadi wirid yang diwariskan kepada murid-murid tarekat Syadziliyyah dan kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia Islam.

Banyak tarekat dan majelis sholawat di Timur Tengah maupun Nusantara menjadikan Sholawat Munjiyāt sebagai . wirid penolak bala. Sebagian ulama memberi ijazah khusus untuk membacanya 1000 kali saat menghadapi urusan besar (misalnya: hutang menumpuk, ancaman bahaya, sakit berat, urusan hukum).

Kesimpulan

Sholawat Munjiyāt pertama kali diajarkan oleh  Syekh Abul Majid Asy-Syadzili  (murid Imam Abu Hasan Asy-Syadzili). Beliau mengamalkannya saat menghadapi bahaya besar di laut, lalu Allah memberi keselamatan. Setelah itu, sholawat ini disebarkan dan dibukukan oleh para ulama, hingga populer di seluruh dunia Islam sebagai  sholawat penyelamat dan penolak bala.

Lafaz lengkapnya dimuat dalam beberapa kitab doa dan sholawat karya ulama, antara lain dalam:

Al-Qaulul Badi’ fi Sholati ‘ala al-Habib al-Syafi’  karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H).

Sa’adatud Darain  karya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat  karya Sayyid Yusuf bin Ismail an-Nabhani (w. 1350 H).

Khasiat & Keajaiban Sholawat Munjiyat

Beberapa ulama menyebutkan faedah sholawat ini, terutama bila dibaca **1000 kali dengan ikhlas dan istiqamah

 1. Keselamatan dari Musibah & Bala

 Dinamai Munjiyat  (“yang menyelamatkan”) karena diyakini dapat menjadi wasilah penyelamatan dari bahaya, bala, penyakit, fitnah, serta kesulitan dunia dan akhirat.

Dalam  Afdholush Sholawat karya Sayyid Yusuf an-Nabhani, disebut bahwa sholawat ini termasuk “syifa’ lil qulub” (penyembuh hati) dan penolak bala yang sangat kuat.

2. Dikabulkan Hajat Besar

 Dalam  Al-Qaulul Badi’  Imam Suyuthi menyebut, siapa yang membaca Sholawat Munjiyat dengan jumlah besar (seperti 1000 kali), maka  Allah mudahkan urusan besar dan sulit baginya. Banyak ulama dan habaib mengamalkannya ketika menghadapi masalah pelik atau urusan yang tampak mustahil.

3. Datangnya Pertolongan Allah dengan Cepat

Disebutkan dalam ijazah para habaib: “Barangsiapa membaca Sholawat Munjiyat 1000 kali, maka ia akan melihat keajaiban dari Allah dalam hajatnya.”  Banyak kisah pengamal sholawat ini yang tiba-tiba mendapat jalan keluar dari masalah ekonomi, hutang, sakit, bahkan urusan hukum.

4. Keselamatan Akhirat. Ulama salaf meyakini, orang yang istiqamah membaca sholawat ini (apalagi 1000 kali), akan diberi perlindungan dari siksa kubur, dilapangkan hisab, dan mendapat syafaat Nabi .

5. Cahaya Hati dan Ketenangan Jiwa.  Karena sholawat ini penuh dengan doa permohonan keselamatan dan keberkahan, membacanya berulang kali bisa membersihkan hati, menenangkan pikiran, serta mendatangkan keberkahan hidup.

Ringkasan Rujukan Kitab

1. Al-Qaulul Badi’ – Imam Jalaluddin As-Suyuthi → menyebut Sholawat Munjiyat sebagai doa keselamatan dari bahaya besar.

2. Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat – Sayyid Yusuf an-Nabhani → menukil banyak keutamaan Sholawat Munjiyat sebagai penolak bala dan penghantar hajat.

3. Sa’adatud Darain– Sayyid Muhammad al-Maliki → menganjurkan Sholawat Munjiyat sebagai wirid khusus untuk pertolongan cepat.

Catatan Amaliyah

Banyak ulama menganjurkan  wirid 1000 kali Sholawat Munjiyat  saat dalam keadaan terdesak.

Dibaca secara istiqamah (misalnya setelah shalat malam atau ba’da maghrib).

Disertai niat yang ikhlas, doa, dan tawakal kepada Allah.


Allahuma Sholi Ala Sayidina Muhamad Wa Al Ali Sayidina Muhamad   SHOLAWAT ADRIKNI Apa itu Sholawat Adriknī? Sholawat ini dikenal dengan na...