SHOLAWAT ADRIKNI
Apa itu Sholawat Adriknī?
Sholawat ini dikenal
dengan nama Sholawat Adriknī , berasal
dari kalimat utama di dalamnya yaitu doa
Adriknī” (أدركني) yang berarti: Tolonglah
aku / selamatkanlah aku”.
Disebut juga dengan nama
Sholawat Al-Adrik.
Lafaz ini dipakai oleh banyak ulama salaf dan pengamal
tarekat sebagai wirid untuk meminta
pertolongan cepat dari Rasulullah ﷺ dengan izin Allah.
Asal-usul Sholawat Adriknī
1. Dinukil dalam kitab Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat
karya Sayyid Yusuf bin Ismail an-Nabhani
(w. 1350 H).
2. Dalam beberapa riwayat, sholawat ini diijazahkan oleh para wali besar sebagai wirid penyelamat ketika menghadapi
kesulitan mendesak.
3. Disebutkan bahwa sholawat ini diajarkan oleh **Sayyid
Ahmad al-Badawi** dan sebagian mursyid tarekat Syadziliyah sebagai *wirid
al-inqadz* (dzikir permohonan pertolongan segera).
Keajaiban & Khasiat Sholawat Adriknī
Beberapa keutamaan yang banyak diceritakan para ulama dan
pengamalnya:
1. Pertolongan Cepat dalam Bahaya
Disebutkan dalam amalan ulama Syadziliyah, siapa yang membaca
Sholawat Adriknī dengan keyakinan, maka Allah
akan mendatangkan pertolongan seketika. melalui wasilah Nabi ﷺ. Banyak kisah orang yang selamat
dari kecelakaan, bahaya perjalanan, hingga bencana alam karena istiqamah
membaca sholawat ini.
2. Keselamatan dari Musibah .Ulama menukil bahwa sholawat ini
menjadi hirz (tameng) dari musibah
besar, baik di darat maupun di laut. Karena lafaz Adriknī
bermakna tolonglah aku segera,
maka sholawat ini sangat dianjurkan dibaca ketika menghadapi kesempitan hidup,
sakit berat, atau ancaman.
3. Dimudahkan Rezeki dan Urusan Sulit
Banyak pengamal tarekat menuturkan, dengan membaca Sholawat
Adriknī secara istiqamah, urusan duniawi yang terasa buntu (hutang, bisnis,
pekerjaan, keluarga) menjadi lapang.
4. Ketenangan Jiwa dan
Hati
Karena sholawat ini
merupakan doa yang penuh kerendahan diri di hadapan Rasulullah ﷺ, maka ia menumbuhkan tawakkal dan ketenangan batin.
Membiasakan membaca
sholawat ini saat gelisah, insyaAllah hati akan diliputi cahaya dan rasa aman.
5. Syafaat Rasulullah ﷺ
Ulama sepakat, siapa
pun yang bershalawat kepada Nabi, maka ia berhak mendapatkan bagian dari
syafaat beliau di akhirat. Sholawat Adriknī memiliki kedudukan istimewa karena
lafaznya berupa seruan pertolongan langsung kepada Rasulullah ﷺ.
Amalan & Cara Membaca
Tidak ada batasan
jumlah mutlak, tetapi banyak ulama memberi ijazah dibaca 40x, 100x, atau 313x setiap hari.
Saat kondisi darurat
(musibah, sakit, atau bahaya besar), dianjurkan **dibaca sebanyak mungkin
dengan penuh keyakinan.
Rujukan Kitab
1. Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat* – Sayyid Yusuf bin
Ismail an-Nabhani.
2. Kanzun Najah wa as-Surur – Imam Al-Qurthubi (disebutkan kumpulan
sholawat, termasuk doa-doa Adriknī).
3. Amalan tarekat Syadziliyyah & Badawiyyah yang
ditradisikan di Mesir dan kemudian menyebar ke Nusantara. Sholawat Adriknī
adalah salah satu sholawat permohonan pertolongan kepada Rasulullah ﷺ yang berasal dari ijazah para wali
dan ulama besar. Khasiat utamanya adalah
mendatangkan pertolongan Allah dengan cepat, keselamatan dari bahaya,
kelapangan rezeki, dan ketenangan batin . Ia termasuk sholawat populer di
kalangan pengamal tarekat Syadziliyyah dan banyak diwariskan di Nusantara.
1. Siapa yang membuat / menyusun Sholawat Adriknī?
Sholawat Adriknī bukan
berasal langsung dari Nabi Muhammad ﷺ, melainkan merupakan sholawat yang disusun oleh para
wali dan ulama sufi Mayoritas ulama ahli
sholawat menisbatkan sholawat ini kepada
Sayyid Ahmad al-Badawi (w. 675 H), seorang wali besar Mesir dan mursyid
tarekat Badawiyyah.
Beliau dikenal sering
mengajarkan wirid *“Adriknī yā Rasūlallāh”* kepada murid-muridnya sebagai doa
*istighotsah* (memohon pertolongan segera melalui sholawat kepada Nabi).
2. Siapa yang pertama kali mengajarkan Sholawat Adriknī?
Sholawat ini pertama kali
diajarkan oleh Sayyid Ahmad al-Badawi kepada murid-murid tarekatnya** di
Mesir. Kemudian amalan ini diteruskan oleh para ulama Syadziliyyah dan
Badawiyyah, lalu dicatat oleh ulama-ulama besar dalam kitab sholawat. Di
kalangan ulama Syadziliyyah, sholawat ini disebut sebagai *“sholawat
al-inqadz”* (sholawat penyelamat), karena sering diamalkan ketika murid-murid
mereka dalam keadaan genting.
3. Dalam kitab apa Sholawat Adriknī ditemukan?
Sholawat Adriknī tercatat dalam beberapa kitab sholawat
klasik, di antaranya:
1. “Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat ” karya Sayyid
Yusuf bin Ismail an-Nabhani (w. 1350 H). → Kitab kumpulan sholawat yang sangat
masyhur, memuat ratusan macam sholawat termasuk Sholawat Adriknī.
2. “Kanzun Najah wa as-Surur” karya Imam al-Qurthubi.
→ Juga mencantumkan
sholawat ini sebagai doa permohonan pertolongan segera.
3. Ditemukan juga dalam manuskrip-manuskrip doa tarekat
Badawiyyah dan Syadziliyyah di Mesir.
Kesimpulan
Penyusun / pengamal awal : Sayyid Ahmad al-Badawi (w. 675 H),
wali besar Mesir.
Pengajar pertama: beliau sendiri kepada murid-murid
tarekatnya.
Kitab rujukan: dimuat dalam Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis
Sadat (an-Nabhani), Kanzun Najah wa as-Surur (al-Qurthubi), dan ijazah tarekat
Badawiyyah–Syadziliyyah.
1. Penyusun
/ Penyampai Pertama
Sholawat
Munjiyāt dinisbatkan kepada **Imam Abul Makārim Syekh Abul Majid Asy-Syadzili (murid
dari Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, pendiri Thariqah Syadziliyyah). Sebagian
riwayat menyebut doa ini diajarkan kepada beliau dalam keadaan ilham ketika beliau dan rombongannya menghadapi bahaya besar di lautan Setelah beliau membaca
sholawat ini dengan penuh keyakinan, Allah selamatkan mereka dari kebinasaan. Sejak saat itu, sholawat ini dikenal dengan
nama Munjiyāt (yang menyelamatkan).
2. Dinamakan
Munjiyāt
Nama “Munjiyāt”
berasal dari kata najāh (نجا) yang berarti “selamat”.Sholawat ini
diyakini sebagai wasilah keselamatan
dari musibah , baik di darat, laut, maupun dalam urusan kehidupan yang sulit.
3. Disebarluaskan oleh Ulama
Imam
Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H) memasukkan Sholawat Munjiyāt dalam kitabnya
*Al-Qaulul Badi’ fi Shalati ‘ala al-Habib asy-Syafi’.
Sayyid Yusuf bin Ismail an-Nabhani (w. 1350 H)
juga menukilnya dalam *Afdholush Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat. Dari situlah
sholawat ini semakin populer di kalangan kaum muslimin, terutama di dunia
tasawuf dan tarekat.
Siapa yang
Membaca Pertama Kali?
Yang pertama
kali membacanya adalah Syekh Abul Majid
Asy-Syadzili ketika menghadapi badai di
laut bersama murid-muridnya. Setelah pertolongan Allah datang, sholawat ini
menjadi wirid yang diwariskan kepada murid-murid tarekat Syadziliyyah dan
kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia Islam.
Banyak
tarekat dan majelis sholawat di Timur Tengah maupun Nusantara menjadikan
Sholawat Munjiyāt sebagai . wirid penolak bala. Sebagian ulama memberi ijazah khusus
untuk membacanya 1000 kali saat menghadapi urusan besar (misalnya: hutang
menumpuk, ancaman bahaya, sakit berat, urusan hukum).
Kesimpulan
Sholawat
Munjiyāt pertama kali diajarkan oleh
Syekh Abul Majid Asy-Syadzili (murid Imam Abu Hasan Asy-Syadzili). Beliau
mengamalkannya saat menghadapi bahaya besar di laut, lalu Allah memberi
keselamatan. Setelah itu, sholawat ini disebarkan dan dibukukan oleh para
ulama, hingga populer di seluruh dunia Islam sebagai sholawat penyelamat dan penolak bala.
Lafaz
lengkapnya dimuat dalam beberapa kitab doa dan sholawat karya ulama, antara
lain dalam:
Al-Qaulul
Badi’ fi Sholati ‘ala al-Habib al-Syafi’ karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H).
Sa’adatud
Darain karya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi
al-Maliki.
Afdholush
Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat karya
Sayyid Yusuf bin Ismail an-Nabhani (w. 1350 H).
Khasiat
& Keajaiban Sholawat Munjiyat
Beberapa
ulama menyebutkan faedah sholawat ini, terutama bila dibaca **1000 kali dengan
ikhlas dan istiqamah
1. Keselamatan dari Musibah & Bala
Dinamai Munjiyat (“yang menyelamatkan”) karena diyakini dapat
menjadi wasilah penyelamatan dari bahaya, bala, penyakit, fitnah, serta
kesulitan dunia dan akhirat.
Dalam Afdholush Sholawat karya Sayyid Yusuf
an-Nabhani, disebut bahwa sholawat ini termasuk “syifa’ lil qulub” (penyembuh
hati) dan penolak bala yang sangat kuat.
2.
Dikabulkan Hajat Besar
Dalam
Al-Qaulul Badi’ Imam Suyuthi
menyebut, siapa yang membaca Sholawat Munjiyat dengan jumlah besar (seperti
1000 kali), maka Allah mudahkan urusan
besar dan sulit baginya. Banyak ulama dan habaib mengamalkannya ketika
menghadapi masalah pelik atau urusan yang tampak mustahil.
3. Datangnya
Pertolongan Allah dengan Cepat
Disebutkan
dalam ijazah para habaib: “Barangsiapa membaca Sholawat Munjiyat 1000 kali,
maka ia akan melihat keajaiban dari Allah dalam hajatnya.” Banyak kisah pengamal sholawat ini yang
tiba-tiba mendapat jalan keluar dari masalah ekonomi, hutang, sakit, bahkan
urusan hukum.
4.
Keselamatan Akhirat. Ulama salaf meyakini, orang yang istiqamah membaca
sholawat ini (apalagi 1000 kali), akan diberi perlindungan dari siksa kubur,
dilapangkan hisab, dan mendapat syafaat Nabi ﷺ.
5. Cahaya
Hati dan Ketenangan Jiwa. Karena
sholawat ini penuh dengan doa permohonan keselamatan dan keberkahan, membacanya
berulang kali bisa membersihkan hati, menenangkan pikiran, serta mendatangkan
keberkahan hidup.
Ringkasan
Rujukan Kitab
1. Al-Qaulul
Badi’ – Imam Jalaluddin As-Suyuthi → menyebut Sholawat Munjiyat sebagai doa
keselamatan dari bahaya besar.
2. Afdholush
Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat – Sayyid Yusuf an-Nabhani → menukil banyak
keutamaan Sholawat Munjiyat sebagai penolak bala dan penghantar hajat.
3. Sa’adatud
Darain– Sayyid Muhammad al-Maliki → menganjurkan Sholawat Munjiyat sebagai
wirid khusus untuk pertolongan cepat.
Catatan
Amaliyah
Banyak ulama
menganjurkan wirid 1000 kali Sholawat
Munjiyat saat dalam keadaan terdesak.
Dibaca
secara istiqamah (misalnya setelah shalat malam atau ba’da maghrib).
Disertai
niat yang ikhlas, doa, dan tawakal kepada Allah.